
MALANG — Suasana halaman depan Laboratorium Tata Busana SMK Brantas Karangkates tampak lebih hidup dari biasanya pada pertengahan April lalu. Di area terbuka tersebut, aroma pekat lilin malam yang mendidih menjadi latar bagi puluhan siswi dan guru yang tengah asyik menarikan canting, mengubah kain polos menjadi lembaran karya seni yang sarat makna.
Momen istimewa tersebut merupakan bagian dari kegiatan “Workshop Batik Tulis: Kenali, Cintai, dan Lestarikan Budaya Indonesia”. Sebuah program kerja unggulan sekaligus wujud praktik baik (best practice) yang diinisiasi oleh tim mahasiswa Asistensi Mengajar (AM) Program Studi S1 Pendidikan Tata Busana, Universitas Negeri Malang (UM) angkatan 2026.
Digelar selama tiga hari (20, 22, dan 23 April 2026), kegiatan ini dipunggawai oleh tiga mahasiswa, yakni
May Anggraini Putri selaku Ketua Pelaksana, bersama dua anggotanya, Habsoh Dhatul Alfiah dan Hadisa Tiara Salsabilla. Mengingat besarnya manfaat dari inisiatif ini, pihak sekolah memberikan apresiasi nyata yang luar biasa. Seluruh kebutuhan operasional kegiatan workshop ini didanai 100% oleh pihak SMK Brantas Karangkates. Hal ini menjadi bukti kuat bahwa program mahasiswa Asistensi Mengajar Universitas Negeri Malang bukan sekadar formalitas, melainkan benar-benar dihargai dan berdampak nyata bagi sekolah.
Sinergi Hangat Tanpa Sekat
Menghindari kesan kaku, workshop ini dikemas dalam balutan acara yang semi-formal namun tetap terstruktur dengan baik. Acara dibuka dengan hangat oleh guru pengampu mata pelajaran Tata Busana SMK Brantas, yakni Ibu Yani Istiana, S.Pd., dan Ibu Hanifah Nuzul Laila Isnaini, S.Pd.
“Kegiatan ini merupakan murni dari inisiatif program kerja Asistensi Mengajar kami. Karena itu, kami mendesain suasananya agar tidak kaku. Kami ingin proses belajar mengajar ini terasa seperti sharing session yang seru antara mahasiswa, guru, dan teman-teman siswa,” ungkap May Anggraini Putri, Ketua Pelaksana, dalam sambutan sederhananya.

Daya tarik workshop ini rupanya tidak main-main. Sebanyak 34 siswi kelas X dari jurusan Desain dan Produksi Busana (DPB) menjadi peserta inti yang tampak begitu serius sekaligus antusias. Menariknya lagi, pesona seni membatik ini turut “menularkan” semangat kepada guru-guru lain di sekolah. Beberapa dari mereka yang dengan sukarela ikut serta karena rasa penasaran dan keinginan kuat untuk belajar membatik bersama para siswi.
Tiga Hari Penuh Warna: Dari Sketsa hingga Karya Nyata
Sesi workshop dipandu langsung secara komprehensif oleh tim mahasiswa Asistensi Mengajar Universitas Negeri Malang. Alur kegiatan didesain agar peserta tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga memahami nilai dan filosofi dari kesenian batik itu sendiri.
- Hari Pertama (20 April): Menyelami Filosofi dan Goresan Perdana Peserta diajak “menyelami” materi dasar tentang filosofi batik, pengenalan alat canting, proses pemalaman (pelekatan malam pada kain), hingga teknik pewarnaan menggunakan bahan alami maupun buatan. Setelah fondasi teori terbangun, peserta mulai membebaskan imajinasi mereka dengan menggambar motif kasar (sketsa) langsung pada kain polos.
- Hari Kedua (22 April): Goresan Canting dan Warna Memasuki hari kedua, halaman laboratorium telah bersalin rupa menjadi ruang produksi seni yang intens. Agenda beralih pada proses mencanting; sebuah fase krusial yang menuntut konsentrasi tinggi dan kestabilan jemari. Bagi para pemula, tahapan ini memberikan tantangan teknis tersendiri. Diperlukan kesabaran ekstra untuk menstabilkan panas lilin malam agar tidak menetes dan menodai pola kain. Meski ada beberapa kegagalan kecil saat lilin meluber, di bawah bimbingan tim Asistensi Mengajar, para peserta belajar memperbaiki kesalahan tersebut. Proses pantang menyerah ini justru mengikat emosi dan menghadirkan pengalaman belajar yang berkesan. Setelah lapisan malam mengunci motif, tahap berikutnya adalah menghadirkan estetika warna melalui teknik colet (pemberian warna pada motif batik secara langsung menggunakan kuas, kapas, atau alat oles lainnya). Dengan sapuan kuas yang mendetail pada bagian-bagian spesifik, selembar kain putih itu pun mulai menampakkan karakternya.

- Hari Ketiga (23 April): Sentuhan Akhir sang Mahakarya
- Ini adalah hari yang paling dinanti-nanti. Peserta melakukan proses penguncian warna agar tidak luntur. Puncaknya adalah proses pelorodan (perebusan kain) untuk meluruhkan sisa lilin malam. Begitu kain diangkat dari bilasan, senyum bangga dan takjub terpancar dari wajah para peserta melihat mahakarya batik tulis buatan tangan mereka sendiri.
“Buat aku, bagian paling menyenangkan itu waktu bisa mendesain motif sendiri dan melihat hasil akhirnya punya perpaduan warna yang bagus. Prosesnya seru karena melatih ketelitian dan kesabaran
kita. Evaluasi buat aku sendiri sih kedepannya harus lebih hati-hati saat mencanting supaya lilin malamnya enggak luber, dan pewarnaannya bisa lebih rapi lagi. Tapi secara keseluruhan, pelatihan tiga hari ini sangat berkesan dan bermanfaat. Aku dapat pengalaman baru yang berharga dan jadi makin bangga sama budaya batik Indonesia.” ungkap Maura, salah satu peserta workshop.

Mencetak Sejarah, Mendulang Dukungan Penuh Sekolah
Keberhasilan workshop ini bukan sekadar tentang selembar kain yang berhasil diwarnai. Kegiatan ini berhasil mencetak sejarah baru karena merupakan pelatihan membatik pertama kalinya yang pernah diselenggarakan di SMK Brantas Karangkates.
Sebagai langkah keberlanjutan, tim Asistensi Mengajar Universitas telah mengajukan usulan strategis agar pelatihan berharga ini tidak berhenti sampai di sini saja, melainkan diadaptasi menjadi program pembelajaran berkelanjutan. Komitmen ini pun didukung sepenuhnya oleh pihak sekolah melalui persetujuan atas usulan tersebut.
Manifestasi Nyata SDGs: Pendidikan Berkualitas dan Pelestarian Budaya
Bukan hanya sekedar membatasi diri pada program kerja kampus, inisiatif yang diusung oleh tim Asistensi Mengajar Universitas Negeri Malang ini juga selaras dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) global. Secara spesifik, workshop ini mengimplementasikan SDG 4: Pendidikan Berkualitas, dengan menghadirkan metode pembelajaran yang inklusif, aplikatif, dan memberikan keterampilan baru di luar kebiasaan kelas tekstual.
Selaras dengan komitmen tersebut, kegiatan ini juga menjadi wujud nyata dari SDG 11: Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan, khususnya dalam pilar perlindungan dan pelestarian warisan budaya nasional. Melalui pendekatan yang menyenangkan, batik tulis tidak hanya dikenalkan, tetapi diwariskan kelestariannya kepada generasi penerus agar tak lekang oleh arus modernisasi.
Melalui publikasi pengalaman selama 4 bulan mengabdi ini, tim mahasiswa Universitas Negeri Malang membuktikan bahwa pendidikan yang bermakna mampu menciptakan dampak yang luas. Mereka tidak hanya sukses menanamkan bibit kecintaan budaya kepada Generasi Z, tetapi juga membuktikan bahwa mahasiswa bisa menjadi motor penggerak keberlanjutan warisan Nusantara di masa depan.

Leave a Reply